Toilet Bike Neo, Motor Bertoilet yang Bahan Bakarnya Berasal dari 'Pembuangan' Manusia

Narayana 734 - Jepang merupakan negara yang sarat dengan inovasi, termasuk dalam urusan toilet. Mungkin anda pernah mendengar tentang toilet yang memiliki pemanas, atau toilet yang bisa berbicara, namun toilet yang satu ini berbeda, karena ia bisa berjalan. 
Seperti yang dilansir trendhunter, Kamis (06/10), perusahaan toilet terkemuka di Jepang, Toto, menciptakan sebuah motor toilet yang diberi nama Toilet Bike Neo. 

Motor eksentrik ini dapat dikendarai menggunakan bahan bakar hasil 'buangan' dari sang pengendara. Mesinnya dilengkapi dengan kemampuan untuk mengekstrak biogas yang berasal dari tempat duduk, memprosesnya dan menggunakan energi yang dihasilkan untuk menjalankan motor. 

Tidak hanya itu, Toilet Bike Neo juga dilengkapi dengan speaker yang memungkinkan pengendara menghibur orang disekitarnya dengan musik, tapi juga berbicara dengan sang motor. Ya, motor ini bisa berbicara. 

Pembuatan motor ini merupakan bagian dari kampanye Toto untuk meningkatkan kesadaran tentang emisi kamar mandi dan penghematan air. 

Toilet Bike Neo rencananya akan melakukan perjalanan dari markas Toto di Kyushua menuju Tokyo dalam waktu sebulan. 
Sepertinya insinyur Jepang memang tidak ada habisnya membuat orang tercengang, tapi ada satu pertanyaan yang tersisa. Kira-kira berapa kali BAB yang harus dilakukan si pengendara? 

Zamrudhijau

Masihkah Kalian Mengeluh? Lihat Foto Ini!!!

Narayana 734 - Sebuah Renungan, Masihkah Kalian Mengeluh Setelah Melihat Foto-foto ini?
Jika kamu merasa pekerjaanmu sangatlah berat, bagaimana dengan dia?
Jika kamu merasa gajimu sangat sedikit, bagaimana dengan anak yang malang ini?
Jika kamu merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia... .
Jika kamu sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini!
Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan Happy Meal?
Jika kamu merasa hidupmu sangat menderita, apakah kamu juga merasakan penderitaan seperti orang ini?
Jika kamu merasa hidupmu tidak adil, bagaimana dengan dia?
Disaat kita kecil, kita dimanja dan disayang, manjakah mereka?
Tidakkah merasa bersalah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?
Berjanjilah para diri sendiri, lalu lakukan. Talk less do More! terima kasih sudah lihat artikel ini, Tolong berikan pendapat sobat dengan komen-komen yang baik, terimakasih... .

Viva

5 Barang dan Hal yang Tidak Akan Laku di Arab Saudi

1.Sepeda Motor 
Selain Saudi mengalami 2 musim yaitu musim panas dan musim dingin, negeri ini juga tidak memberlakukan pajak bagi warganya, pajak sama dengan Haram, jadi mereka lebih memilih mobil, karena harga mobil disini murah dikarenakan tidak adanya pajak, dan harga 2 liter bensin setara dengan 1 botol air mineral 500 ml atau 4 liter bensin setara dengan 1 kaleng soft drink 330ml. jadi jangan heran kalau disini tidak pernah melihat motor Jepang apalagi Cina. Kalaupun ada biasanya motor gede sekelas Harley Davidson atau Ducati.

2.Bintang iklan atau Model
Bermimpi ingin jadi model, artis, atau bintang iklan?? Kalau ada keinginan seperti itu mending buang jauh jauh, karena di negara yang terkenal dengan Islamnya ini, akan melarangnya, jadi buat sobat yang kesini jangan kaget melihat model iklan baju, mukanya disensor alias dikaburkan seakan akan kita melihat orang memakai baju dengan muka rata tanpa hidung, mata, apalagi bibir walau iklannya di pasang di keramaian atau di pusat perbelanjaan.

3.Minuman Keras (wine,bir, atau sejenisnya yang mengandung Alkohol)
Untuk minuman keras pemerintah Saudi sangat melarang keras, kalau ada yang ketahuan mengkonsumsi atau dengan sengaja mengedarkanya, maka hukumanya setara dengan hukuman tindakan asusila lainnya.

4.Payung atau jas hujan
Di Saudi jarang sekali menemui orang memakai payung, karena di sini Hujan merupakan sesuatu yang langka dan bahkan Ditungu tunggu, kalaupun ada hujan mereka memilih keluar rumah untuk menikmati air yang turun lansung dari langit, melihat hujan sama dengan melihat makanan ketika lapar.

5.Minyak Angin atau jamu Tolak Angin
Selama saya disini belum pernah mendengar orang masuk angin, atau mati karena angin duduk apalagi orang Saudi, kalaupun ada biasanya orang kita yang sudah terbiasa masuk angin di kampungnya.ketika saya menanyakan ke Apotik tentang minyak angin selalu dibilang maffi (tidak ada).

Zamrudhijau

10 Kasus yang Belum Terselesaikan

Narayana 734 - Telah datang Hari Raya Idul Fitri, waktu saling memberi maaf tiba. Namun memaafkan bukan berarti memaklumi, apalagi melupakan. Keadilan harus tetap ditegakkan. Khususnya bagi 10 peristiwa yang tak dituntaskan hingga sekarang seperti di bawah ini. Bahkan beberapa kasus diantaranya, kasus Marsinah dan Fuad Muhammad Syarifudin alias Udin, terancam kadaluarsa.
Kerangka yang digali dari kuburan massal korban G 30 S.
1.  Pembunuhan massal setelah G30S
Pembunuhan para Jenderal dalam peristiwa 30 September 1965 baru awal dari kejadian mengerikan yang akan terjadi bertahun-tahun kemudian. Orde Baru menuding PKI bertanggung jawab atas kudeta yang gagal itu dan menghukum mereka dengan cara keji.

Warga yang dianggap sebagai komunis dihabisi tanpa pengadilan, sebagai bagian dari operasi pembersihan PKI. 500 ribu hingga 3 juta orang tewas, menurut perkiraan Komnas HAM. Ribuan lainnya diasingkan, dan jutaan orang lain harus hidup dengan stigma PKI.

Pihak yang layak dimintai pertanggung jawaban versi Komnas HAM adalah Komando Operasi Pemulihan Keamanan semua pejabat dalam struktur Kopkamtib 1965-1968 dan 1970-1978 serta semua panglima militer daerah saat itu. Pelanggaran hak asasi manusia berat ini tak ada dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah selama Orde Baru.

2. Penembakan Misterius
Peristiwa Petrus yang terjadi pada periode 1982-1985 ini dilatarbelakangi tingginya kriminalitas disertai kekerasan serta tumbuhnya kelompok-kelompok preman. Namun dalam penyelenggaraannya, terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Apalagi banyak korban salah sasaran atau masyarakat biasa.

Jumlah korban berdasarkan data penelitian David Bourchier yang berjudul "Crime, Law, and State Authority in Indonesia" pada 1990 - terjemahan Arief Budiman – yang dikutip Komnas HAM mencapai 10.000 orang. Sementara temuan lembaga itu sendiri ada 2.000 orang. Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

3. Peristiwa Berdarah di Tanjung Priok
Kasus yang terjadi pada 1984 ini dipicu oleh penahanan Achmad Sahi, Syafwan Sulaeman, Syarifuddin Rambe dan M. Nur di Markas Komando Distrik Militer (Makodim). Tuduhannya adalah pembakaran motor Babinsa. Warga yang protes atas penahanan tersebut melakukan aksi unjuk rasa.

Massa dihadang berondongan timah panas. Menurut laporan Komnas HAM, penembakan dilakukan oleh Artileri Pertahanan Udara TNI AU. Akibatnya, 79 orang jadi korban, 24 di antaranya meninggal serta sisanya mengalami luka-luka. Temuan ini diperoleh dari penyelidikan tim yang dibentuk oleh Komnas HAM.

4. Peristiwa Mei 1998
14 tahun lalu, Jakarta dikepung api. Reformasi, babak baru dalam kehidupan berbangsa Indonesia harus dibayar mahal. Sementara krisis politik melanda Istana, kekerasan terjadi di jalanan. Kerusuhan itu diduga dipicu oleh kelompok tak dikenal.

Terjadi penjarahan dan pembakaran, pemerkosaan, serta penembakan dan penculikan. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah menemukan data bervariasi soal korban. Tim Relawan menyebut 1.190 meninggal, sementara  Polda Jakarta menemukan 451 orang, serta Kodam Jaya menyebut 463.

5. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia 

Pada September 1997, di tengah tekanan krisis keuangan, pemerintah Indonesia dalam sebuah sidang kabinet yang dipimpin Presiden Soeharto, mengambil langkah penting.  Perbankan yang sehat tapi mengalami kesulitan likuditas akibat krisis, akan dibantu. Belakangan, keputusan ini dikenal dalam bentuk BLBI.

Total bantuan likuiditas yang dikucurkan untuk perbankan yang dianggap ‘sehat’ itu mencapai Rp 144,5 triliun. Namun hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan potensi terjadinya kerugian negara dari BLBI mencapai Rp 138,4 triliun. Kejaksaan Agung juga mencatat masih ada 21 buron terkait penyimpangan dana bantuan tersebut. Beban ekonomi akibat peristiwa ini juga masih kita tanggung hingga sekarang.

6. Lumpur Lapindo
11.974 warga di Sidoarjo kehilangan rumah, mata pencaharian dan sejarah mereka akibat terjangan lumpur panas. Lumpur panas meluap dari kawasan penambangan gas milik PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 2006. Akibatnya, sekitar 18 desa di kawasan tersebut kini menjadi lautan lumpur.

Baru-baru ini Komnas HAM memutuskan bahwa kasus semburan lumpur panas itu merupakan pelanggaran atas hak asasi manusia, sehingga masuk kategori kejahatan. Komnas minta Kepolisian melakukan penyidikan lebih lanjut, walaupun Polda Jawa Timur sudah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Dalilnya, pengadilan memutuskan bencana Lapindo sebagai bencana alam, bukan kejahatan.

7. Kekerasan di Papua
Lembaga Studi Hak Asasi Manusia (eLSHAM) di Jayapura, Papua, punya daftar tentang penegakan hak asasi di Papua.  Dalam laporannya yang berjudul ‘Masa Lalu Yang Tak Berlalu’, lembaga itu mencatat ada 749 dugaan pelanggaran HAM di Papua sejak 1970-an yang tak kunjung selesai sampai sekarang. 

Hasil penelitian setebal 25 halaman itu dikerjakan bersama International Center for Transitional Justice (ICTJ). Rincian dari temuan hasil penelitian yang diumumkan minggu ini adalah: 49 pelanggaran terhadap 312 laki-laki dan 56 perempuan. 101 orang di antaranya merupakan korban dalam kelompok atau dialami oleh lebih dari satu orang. 

8. Kekerasan Akibat Perebutan Lahan

Peristiwa terakhir yang ramai ke publik secara nasional, yaitu pada tahun lalu, terkait perebutan lahan di Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, dan Kabupaten Mesuji, Lampung, antara warga dengan perusahaan perkebunan sawit.  Pada kasus di Sumsel, jumlah korban meninggal mencapai 7 orang. Sedangkan di Lampung, 100 warga ditahan Kepolisian.

Penyebab kasusnya berbeda. Untuk peristiwa Kecamatan Mesuji di Sumsel, terkait konflik lahan antara warga dengan PT Sumber Wangi Alam. Sementara di Kabupaten Mesuji, Lampung, warga yang sudah menempati lahan ingin diusir oleh perusahaan Malaysia di bidang perkebunan. Warga pun melawan. Kasus ini menambah daftar hitam konflik perebutan lahan antara warga dan perusahaan. Warga Pulau Padang, Riau, 2012 lalu berkemah dan menjahit mulut mereka di depan DPR untuk meminta keadilan akan lahan mereka yang dirampas PT Riau Andalan Pulp and Paper.

9. Kasus Marsinah
Kasus pembunuhan terhadap aktiis buruh, Marsinah, tahun depan sudah berusia 20 tahun. Namun hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Padahal, kasus ini akan kadaluarsa tahun depan – sesuai masa berlakunya – seandainya masih belum ada titik terang tentang pelaku pembunuhan tersebut.

Peristiwanya terjadi pada 9 Mei 1993, ketika jasad Marsinah yang  sebelumnya sempat protes ke Kodim Sidoarjo atas penangkapan rekan-rekannya, ditemukan tergeletak di sebuah gubuk pinggir sawah dekat hutan jati, Dusun Jegong, Desa Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Marsinah terlibat aktif dalam pemogokan buruh PT Catur Putra Surya, sebuah perusahaan arloji. Kini, para aktivis minta kasusnya yang tenggelam diungkap.

10. Pembunuhan wartawan
Mirip dengan kasus Marsinah, peristiwa pembunuhan terhadap Fuad Muhammad Syarifudin alias Udin, wartawan Harian Bernas Yogyakarta, pada Agustus 1996 belum juga terungkap. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengingatkan Kepolisian untuk mengungkap pelaku pembunuhan Udin, mengingat kasus tersebut terancam kadaluarsa pada 16 Agustus 2014, sehingga tidak bisa diadili.

Sayangnya Udin bukan yang terakhir. Hingga kini AJI mencatat ada 8 wartawan yang meninggal dalam tugas peliputan. Namun hingga kini kasusnya belum juga terungkap oleh Kepolisian. Delapan nama itu adalah, Naimullah (Sinar Pagi), Agus Mulyawan (Asia Press), Muhammad Jamaluddin (TVRI), Ersa Siregar (RCTI), Herliyanto (Jurnalis lepas Tabloid Delta, Sidoarjo), Adriansyah Matra’is Wibisono (Jurnalis TV lokal di Merauke), Alfred Mirulewan (Tabloid Pelangi), dan Fuad Muhammad Syarifuddin (Bernas).

Tentu masih banyak lagi kasus yang tak terungkap. (Yahoo)

Kisah Nelayan Pemburu Mayat di China

Narayana 734 - Seorang nelayan di China punya pekerjaan yang mungkin menakutkan bagi banyak orang. Dia menebar jala ke sungai, tapi bukan untuk menangkap ikan, melainkan menjerat mayat manusia.

Mayat-mayat yang ditangguk di sungai itu, lalu dijual ke kerabat bersangkutan. Profesi itu dilakukan oleh Wei Xinpeng di Sungai Kuning.

Wei, seperti diungkapkan oleh laman BBC, kerap memulai harinya dengan nongkrong sambil merokok di tepi sungai. Matanya mengamati air Sungai Kuning yang keruh. Dia yakin, sungai itu pasti selalu menyimpan mayat manusia, entah korban kecelakaan, dibunuh, atau pun bunuh diri.

Lelaki 55 tahun itu seperti hapal aliran sungai, dan dia jeli melihat ke mana arus membawa mayat-mayat yang tenggelam di sungai itu. Biasanya, Wei mendayung perahunya ke dekat satu jembatan kecil di hilir. Di sana, biasanya mayat "parkir" sebentar, karena tersangkut di celah besi jembatan.

Dalam tujuh tahun terakhir, mencari mayat kini adalah kegiatan rutin Wei. Dia menjual temuannya itu ke kerabat mayat bersangkutan. “Saya memberi penghargaan kepada si mayat,” ujarnya seperti dilansir dari laman BBC, Senin 22 November 2010.
Wei mengaku telah mengumpulkan sebanyak 500 mayat dari dasar sungai. “Orang-orang ini mati dengan cara mengenaskan,” ujar Wei.

Dia mengumpulkan mayat temuannya itu di satu teluk kecil yang tak tersentuh arus. Mayat-mayat beragam bentuk itu ditumpuk di sana. BBC melaporkan, di teluk kecil itu ada empat mayat yang tubuhnya telah kaku, dengan kepala tertelungkup ke bawah.
Setiap kali berhasil menangguk mayat, Wei mengumumkannya di koran lokal. Dia menyebut ciri fisik mayat itu, sehingga kerabat yang bersangkutan dapat segera mengenalinya. Biasanya, kerabat si mayat akan menelepon Wei, dan meminta diantarkan ke tempat dia menyimpannya.

Wei membawa kerabat si mayat ke teluk kecil itu. Dia memasang sedikit tarif untuk jasa membalikkan tubuh si mayat agar wajahnya dapat terlihat. Jika kerabat mayat ingin membawanya pulang, maka mereka harus membayar uang tebusan sebesar lebih dari US$500, atau sekitar Rp. 4,4 juta.

Wei mengatakan, selama ini dia telah menjual sekitar 40 mayat. Tapi terkadang, keluarga mayat enggan membayar, dan pulang tanpa membawa jenazah yang ditemukan Wei. “Satu kali orang tua mencari anaknya. Mereka melihat sebentar, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mereka tak membawanya pulang,” ujar Wei.

Jika sudah begini, Wei terpaksa harus menguburkan mayatnya secara pantas. Soalnya, pemerintah akan membiarkan mayat temuannya membusuk tanpa melakukan apapun.

Wei mengatakan apa yang dia lakukan bukan semata-mata karena uang, tapi karena alasan lebih pribadi.

Dia pun berkisah. Pekerjaan ini, kata Wei, bermula dari usahanya untuk mencari anaknya sendiri, yang tenggelam di Sungai Kuning.
“Anak saya tenggelam di sungai ini dan saya tidak dapat menemukan mayatnya. Sangat menyakitkan. Itu sebabnya saya melakukan pekerjaan ini,” ujar Wei.

Putra Wei sampai sekarang belum ditemukan. (viva)