Di Mana Mayat Stalin Disimpan?

Narayana 734 - Setengah abad lalu, Uni Soviet diam-diam memindahkan jenazah diktatornya, Josef Stalin dari mausoleum di Lapangan Merah. Jenazah Stalin dipindahkan pada 31 Oktober 1961 secara sembunyi-sembunyi dari posisinya di sebelah jenazah pemimpin revolusi Rusia Vladimir Lenin. 

Bagi rakyat Rusia, nama Stalin memang dibenci namun juga dipuja. Sejak keruntuhan Uni Sovyet beberapa tahun yang lalu, banyak orang Rusia justru malah merindukan sosok Stalin sebagai penguasa.
Sosok Stalin sewaktu berkuasa memang luar biasa kejam. Jutaan orang dikirim ke kamp-kamp paksa di daerah Siberia. Ia pun tak segan membunuh lawan-lawan politiknya. Beberapa tokoh pendiri Sovyet yang sempat berjasa bersama Lenin mendirikan negara ini, dihabisinya tanpa ampun. Leon Trotsky, sahabat dekat Lenin yang juga menjadi salah satu 'Founding Fathers; negara komunis ini, dibunuh Stalin, gara-gara rivalitas kepemimpinan.
Tak heran, setelah ia tewas, banyak orang Sovyet merasa lega. Malah pada 1956, untuk pertama kalinya pimpinan sovyet saat itu, Nikita Khrushchev mengungkap kejahatan  Stalin pada Kongres Partai Komunis ke-20. Kebencian Khrushchev juga diperlihatkannya ketika ia memindahkan jenazah Stalin dari mausoleum. Pemindahan ini disetujui oleh Partai Komunis Sovyet dan alasan pemindahan ini karena Stalin dianggap menyalahi prinsip-prinsip Leninisme, penyalahgunaan kekuasaan dan penindasan besar-besaran terhadap rakyat tak berdosa.
Namun, karena saat itu, pengikut Stalin masih banyak, operasi pemindahan penyingkiran jenazah Stalin itu dilakukan beberapa hari kemudian karena Khrushchev takut pada reaksi para pendukung Stalin. Saat itu, Polisi menutup Lapangan Merah pada pukul 6 sore dibawah kamuflasi parade militer yang diselenggarakan pada 7 November untuk menandai ulangan tahun Revolusi. Kendaraan-kendaraan militer memenuhi Kremlin sehingga tak seorang tahu apa yang sebenarnya terjadi di Lapangan Merah.
Berdasarkan memoar KGB dari keterangan Fedor Konev, komandan pasukan penjaga Kremlin waktu itu, para prajurit menggali kuburuan persis di bawah  mausoleum di kaki dinding Kremlin.
Mereka kemudian mengambil jenazah Stalin lalu ditempatkan di sebuah peti mayat tertutup, dan akhirnya dikerek ke bawah oleh delapan perwira. Operasi pemindahan jenazah Stalin itu rampung sebelum tengah malam tiba. Anak perempuan Stalin, Svetlana Alliluyeva, waktu itu tidak diundang. Hanya anggota komisi yang bertanggungjawab dalam operasi itu saja yang ikut serta, serta para perwira KGB dan tentara.
Keesokan paginya, warga kota Moksow kaget mendapati jenazah sang diktator yang dikremasi itu hilang dari mausoleum.
Khrushchev sebenarnya menginginkan Stalin dikuburkan di pemakaman Novodevichy Convent di Moskow, tempat peristirahatan terakhir para tokoh besar Soviet dan Rusia.
Namun dia berubah pikiran. Menurut kepala keamanan mausoleum Konstantin Moshkov, hal ini terpaksa dilakukan karena takut para pendukung fanatik Stalin akan mencuri mayat itu dari pemakaman umum.
Kampanye-kampanye destalinisasi juga berlangsung di tempat-tempat lain. Yang paling fenomenal misalnya Stalingrad yang menjadi medan perang terkenal pada Perang Dunia II diganti menjadi Volgograd, sementara kota-kota lain dan juga perusahaan-perusahaan yang bernamakan Stalin diubah lagi namanya.
Sampai kini, tempat peristirahatan Stalin masih berbentuk makam di depan benteng Kremlin yang digali mendadak pada malam 31 Oktober 1961.
Tempat itu secara rutin ditaburi melati oleh para anggota Partai Komunis Rusia dan berada dalam komplek Kremlin, berdampingan dengan para tokoh terkenal dalam sejarah Rusia dan Soviet. Namun pertanyaannya,  apakah mayat Stalin dikuburkan di tempat itu? atau di tempat lain?
Pertanyaan itu sampai sekarang belum terjawab.
Berdasarkan jajak pendapat di Rusia yang dipublikasikan April 2011 lalu, 26 persen warga yakin bahwa peran Stalin sangat positif. Angka ini naik dibandingkan angka tahun 2007 yang mencapai 15 persen. Hanya 24 persen responden yang memandang Stalin negatif.
REPUBLIKA.CO.ID

Pria Ini Selama 6 Tahun Pura-Pura Mati

Narayana 734 - Seorang pria asal Inggris, yang dituduh telah memalsukan kematiannya sendiri dan kabur dengan uang asuransi, telah ditahan di Australia, menurut pihak kepolisian, Kamis.
Hugo Jose Sanchez (47), yang juga dikenal sebagai Alfredo, ditahan oleh pihak Kepolisian Federal Australia di Sidney, kata pihak berwajib tersebut kepada AFP, menghentikan perburuannya selama enam tahun.
Hugo Jose Sanchez
Istri Hugo, Sophie, tahun lalu ditahan dengan hukuman penjara dua tahun karena penipuan, dengan tuduhan pemalsuan kematian dan membawa uang asuransi jiwa sebesar USD 1,6 juta (sekitar Rp14,35 miliar), pada tahun 2005.
Sophie ditahan setelah kembali ke Inggris untuk menghadiri pernikahan saudarinya pada bulan September lalu, yang menyebabkan kejahatan mereka terbongkar setelah sidik jari Hugo ada di sertifikat kematian dirinya sendiri.
Pihak kepolisian menolak berkomentar pada laporan media bahwa Hugo akan di ekstradisi ke Inggris untuk menghadapi tuntutan penipuan, dan berkata bahwa sekarang akan diproses di Central Local Court di Sidney, di mana dia akan hadir, Kamis.
antaranews.com

Polisi Austria Amankan 'Mayat Hidup' di Jalan Raya

Narayana 734 - Suasana menjelang pagi di jalan raya Tauern, dekat Salzburg, tiba-tiba saja gempar. Seorang 'mayat bergelimang darah' tergeletak di jalan tersebut.
Pejalan kaki langsung memberitahu pihak berwenang saat sang fajar baru saja menampakkan wajahnya pada Selasa (1/11) pagi. 'Mayat hidup' itu sempat menimbulkan ketakutan sebelum polisi akhirnya membangunkan 'si mayat' dari kematian.
Wilayah Tauern di Salzburg, Austria (ilustrasi)
Belakangan terbukti bahwa zombie tersebut hanyalah seorang pria muda yang mabuk dan memakai kostum Halloween. Wajahnya dibalur dengan darah palsu. ''Pria itu tertidur di mobilnya,'' kata polisi dalam sebuah pernyataan.
Dengan masih mengenakan kostum mayat hidup, pria berusia 23 tahun tersebut telah berhenti di tempat istirahat setelah satu ban mobilnya pecah. Dia tak bisa melanjutkan perjalanan.
Surat izin mengemudinya dibekukan karena ia mengemudi dalam keadaan mabuk.
REPUBLIKA.CO.ID

Pengadilan Perancis Bolehkan Pemecatan Karyawan Berjilbab

Narayana 734 - Atas dasar netralitas agama, pengadilan Perancis memutuskan pemecatan karyawan berjilbab sah di mata hukum. Demikian hasil pengadilan banding kasus pemecatan Afif Fatima oleh Baby Loup, perusahaan yang mempekerjakan Fatima.
Kasus Fatima berawal, saat ia menolak untuk melepas jilbab saat diminta pemilik Babay Loup. Lantaran menolak, Fatima selanjutnya dipecat. Tidak terima dengan putusan itu, Fatima membawa kasus itu ke pengadilan. Pengadilan memutuskan apa yang dilakukan Baby Loup sah dimata hukum.
Fatima lalu mengajukan banding atas putusan itu. Namun, pengadilan banding di Versailles mendukung putusan pengadilan perburuhan. Pengadilan banding menyatakan Baby Loup tidak melakukan kesalahan. "Ini adalah kemenangan bagi kami, tentu saja kemenangan bagi Perancis dan sekularisme," papar pengacara Baby Loup, Richard Malka, seperti dikutip radio RFI, Jum'at (28/10).
Ia mengatakan, netralitas agama dalam sebuah perusahan dapat memberikan jaminan tidak adanya risiko benturan antar agama. Dengan demikian, jaminan keseteraan antar karyawan terlindungi. Komunitas Muslim Perancis menyayangkan putusan itu. Mereka mengatakan pengadilan telah melakukan diskriminasi terhadap agama.  
Prancis merupakan negara pertama di Eropa yang memberlakukan aturan melarang simbol-simbol agama diperlihatkan di tempat-tempat umum. Melalui UU yang diberlakukan, pemerintah Perancis akan mengenai denda sebesar 150 Euro bagi perempuan yang mengenakan cadar di jalan atau di gedung-gedung umum. Sementara laki-laki yang memaksa istrinya mengenakan cadar atau burka atau niqab diancam denda sebesar 30 ribu euro.
Sementara itu, Amnesty International menyatakan pelarangan itu justru menghalangi kebebasan mengeluarkan pendapat. Selanjutnya Lembaga Hak Asasi Manusia itu juga khawatir perempuan yang saat ini mengenakan cadar tidak akan berani lagi ke luar rumah.
Perancis bukan satu-satunya negara Eropa yang sibuk melarang pemakaian cadar. Spanyol dan Belgia juga melakukan hal yang sama. 
REPUBLIKA.CO.ID

Ini Dia Agama Yang Dianut Steve Jobs

Narayana 734 - Kematian pendiri Apple, Steve Jobs, meninggalkan sejumlah pertanyaan. Salah satunya, dan banyak membuat penasaran, adalah agama yang dianut Jobs. Pasalnya, sang inovator teknologi ini jarang mengumbar cerita soal kehidupan pribadinya.
Sebelum pindah ke Sillicon valley, Jobs mendalami ajaran Zen, sebuah aliran dalam agama Buddha Mahayana. Aliran Zen yang didalaminya fokus pada usaha mencapai pencerahan atau kesempurnaan. Namun, sejumlah kalangan menganggap apa yang didalami Steve, bertolak belakang dengan perilakunya.
"Dia adalah seorang yang tercerahkan namun kejam. Itu kombinasi yang aneh,” ungkap mantan pacar Jobs, seperti dikutip thehuffingtonpost.com, Kamis (3/11).
Ironi lain, dalam biografinya yang dituliskan Walter Isaacson, pada usia 13 tahun, Jobs bertanya kepada pendeta gereja Lutheran soal anak-anak kelaparan. “Ya, Tuhan tahu segalanya,” jawab pendeta. Mendengar jawaban itu, Jobs kecewa. Semenjak itu, ia menolak untuk menyembah 'Tuhan' yang mengizinkan penderitaan macam itu.
Kecewa dengan sikap Gereja, Jobs segera beralih pada kepercayaan Timur terutama India dan Cina. Ia kemudian mempelajari Buddha aliran Zen. Pada tahun 1974, Jobs melakukan perjalanan ke India, mencari guru spiritual. Setelah kembali, ia bertemu seorang penganut Zen, kobun Chino Otagawa, yang membuka pusat meditasi Zen Haiku.
Jobs segera hanyut dalam ajaran itu. "Saya menghabiskan waktu bersamanya sebanyak yang saya bisa," kata Isaacson menirukan suara Jobs. "Zen punya pengaruh yang mendalam dalam hidupnya sejak itu," lanjutnya.
Jobs bahkan diketahui bepergian ke Eihei-ji, kuil utama Zen di Jepang. Tapi kobun, karena ia dikenal, menasihati Jobs untuk tinggal di California.
Les Kaye, seorang guru Zen di Silicon Valley, mengingat kobun sebagai sosok misterius dan bijaksana. "Dia adalah lambang makhluk tercerahkan: manis, baik dan murah hati. Orang-orang berbondong-bondong kepadanya," kata Kaye.
REPUBLIKA.CO.ID